Jumat, 25 November 2011

PR nyasar dari Ayu hahaha

Yanasib ya nasib, dapet wall di facebook dari ayu malahan PR. kerjain ajadeh biar enggak sial hahha.

katanya suruh nyebutin 11 hal tentang saya. beginilah kira-kira :
  1. Sayang banget sama mamake, melebihi diri sendiri pokoknya. Beliau adalah Malaikat sekaligus Super Hero. 
  2. Suka banget sama perjalanan, belakangan saya tergila-gila sama perjalanan mendaki gunung yang mulai bulan september lalu sudah mulai rutin setiap bulannya. Desember Cikuray hahahha
  3. Suka banget makan, kayaknya ini rahasia umum deh hahhaa, cuma saya susah gemuk, cuma perut ini yang menandakan saya doyan makan (baca : buncit) lalalala ~
  4. Gila baca dan lumayan rak bukunya udah mau penuh, suka nulis juga kadang :)
  5. Ada kopi ada rokok. Saya penikmat kopi hitam pekat, disitu ada kejujuran. Saya perokok tapi bukan pecandu rokok, tapi saya bukan abg jaman sekarang yah, yu :p
  6. Saya cengeng tapi bisa menjadi sosok yang berbeda dimanapun saya mau, bukan pura-pura kuat tapi kesedihan bukan untuk dibagi bukan ? Jarang ada yang tau saya cengeng, buka aib nih hahha
  7. Cinta banget sama vespa tapi seumur-umur enggak bisa naik motor, jadi gimana mau naik vespa ? tapi suka banget naik vespa tapi enggak bisa ngendarainnya, jadi gimana ? ahh gilaaaak!! 
  8. Pengen banget jadi Jurnalis, tapi kuliah keburu putus gara-gara keegoisan saya. Kalo aja saya mau muter jadi orang lain dulu sesuai keinginan bapake dan baru menjadi diri sendiri mungkin sekarang saya lagi skripsi. Tapi cita-cita bukan buat mainan, Bapak tunggu pembuktianku!
  9. Kadang insomia banget, kadang bisa pules banget. Susah tidur, susah juga bangunnya. untung sekarang masih bisa bangun hahhaa 
  10. Jarang banget marah, bingung juga apa gunanya marah ? klo kesel berenang aja, entar keselnya ilang sendiri. Warning : "Dendam dapat merusak hati, lalu merempet ke jantung, lalu ke paru-paru"
  11. Suka lupa tapi tau kalo lupa. Yaampun, gue masuk pagi rugi amat jam segini belum pulang. Ayuuuu, lanjut besok ya hahhaa

Rabu, 16 November 2011

aku masih hidup, semua karena kalian.

Pendakian ketigaku : Aku dan beberapa team Pendakian SERU kali ini berkumpul, setelah sukses meninggalkan jejak ditanah tertinggi di Pulau Jawa. Pendakian kali ini dinamakan "Pendakian Tiang". Mengapa harus Pendakian Tiang ? karena, diadakan pada tanggal 11-11-'11. Tadinya aku kira pendakian ini hanya sekedar reuni untuk team SERU, tapi tak disangka Om Djal mengabarkan bahwa ada sekitar 30 orang lebih yang akan berpartisipasi. Aaahh, senangnya bukan kepayang akan bertambah teman baru lagi.

Pendakian ini dibagi menjadi 2 jalur. Jalur 1 : melalui Putri dan Jalur 2 : melalui Cibodas. Tiba di hari H, tidak sedikit peserta yang mengundurkan diri. Akhirnya, fix dari jalur Putri : Om Djal, Om Dolly, Mas Dwi dan Mas Ucup. Jalur Cibodas fix 24 orang termasuk aku.

Perjalanan dimulai 11-11-11 :

Aku, irvan dan Bang anton seperti biasa janjian ketean di Kp. Rambutan. Kira-kira pukul 22.00 kami baru menaiki bus dan sampai di warung Teh Lilis sekitar pukul 00.30 dini hari. Kami bertiga langsung bergegas naik mencari kasur dan selimut serta memesan mie kuah + telor dan teh manis hangat sebagai penutupnya. Sambil makan, irvan bergantian denganku untuk menelpon Bang Day untuk mengetahui posisi rombongan sudah dimana, ternyata masih belum mendapatkan kendaraan menuju Cibodas dan masih stuck di Pasar Induk. Oke, kami bertiga sepakat berhubungan intim dengan kasur dan selimut yang telah digelar masing-masing. kami terlelap.

Kira-kira pukul 05.30 aku kebangun, liat handphone banyak banget misscalled sama ada sms dari Bang Day. Bang Anton sama Irvan masih pada pules, langsung aja aku gebrak biar pada bangun. Ternyata handphone irvan juga di misscalled, langsung Irvan lari ke jendela ngelongok, aku juga ikutan tapi malah nubruk jendela terus kacamata pecah. sempet panik, untung bisa diakalin pake lem. akhirnya bisa liat normal lagi hahhaa.


Akhirnya team udah pada kumpul semua didepan warung Teh Lilis, ngecek simaksi sambil siap-siap bentar. setelah ready semua, kira-kira pukul 07.30 kami berangkat!



Sebelum perjalanan dilanjut, kami menyerahkan simaksi terlebih dahulu di kantor TNGP. Supaya kami tidak tercatat sebagai pendaki gelap. Sambil sebagian lagi mengurusnya, sebagian lagi foto-foto dong :D


Setelah segala sesuatunya rampung, kami bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan dan mulai mendaki. Tidak lupa doa dan sedikit yel-yel ngaco untuk menyemangati diri kami masing-masing. Tetep aja team ngacak enggak ada yang bener hahhaa.




Kami berjalan agak seperti berbaris, pos demi pos kami lewati dan sesekali kami beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga kami. Dan sesekali kami memanfaatkan spot ntuk bergaya sejenak, mengumplkan dokumentasi ntuk diupload. Kami melewati Telaga Biru, Pancayangan, dan beberapa selter sampai akhirnya memutuskan menunggu Team 2 di Air Panas. Kami berendam sebentar, melurskan oto-otot kaki yang tegang.

Foto yang berhasil diabadikan dari Jembatan, Pancayangan, Selter dan Air Panas :






Ternyata dari Team 2 yang menyusul hanya Om Dolly yang kemudian disusul oleh Om Djal. Setelah sebentar bercengkrama temu kangen, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalur menuju Kandang Badak sudah mulai agak menanjak dan cuaca agaknya mluai mendung.  Beberapa dari Team Cibodas ada yang memilih untuk ngecamp di Kandang  Batu yang letaknya tidak jauh dari Air Panas. Kami mulai agak sering untuk beristirahat. Kira-kira Pukul 14.30 kami sampai di Kandang Badak dan sudah mulai gerimis. Ada juga beberapa lagi dari Team Cibodas yang memutuskan ngecamp di Kandang Badak. Kami mulai memasak dan mengisi perut karena Pukul 15.30 akan dilanjutkan perjalanan menuju Mandalawangi, sesuai rencana awal kami akan ngecamp disana.

Setelah kami selesai beres-beres peralatan memasak, packing kembali dan siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa kami membentuk bulatan kecil berdoa kepada Tuhan Pemilik Semesta dan diakhiri dengan yel-yel penuh keceriaan. Kami meninggalkan Kandang Badak.

Jalur yang ditempuh sudah mulai mendaki dan agak terjal, sesekali diselingi pohon tumbang dan untuk melewatinya tbuh ini harus merunduk sedemikian rupa hingga carrier dipundak jga bisa melewati atau melompati batang pohon tumbang tersebut. Sat jam perjalanan kami istirahat di jalur sambil ngobrol-ngobrol dan makan agar-agar buatan kak Achi dan Junita. Tidak lama kami berjalan lagi dan menemukan selter dengan bidang tanah yang cukup luas dan kami memutuskan untuk beristirahat kembali. Tapi bar sebentar, gerimis kemudian datang dan sat u persatu mulai berjalan. Para senior, Team Putri berjalan setengah berlari dan 2 orang Team Cibodas Trie dan Bang Yanto juga ikut menerobos gerimis. Sementara aku dan 10 orang lainnya memutuskan berteduh dulu dibawah pohon tumbang menggunakan terpal karena gerimis berbah menjadi hujan yang mencekam.

Badai mencekam, tak akan aku lupakan seumur hidupku. Aku berada dititik terendah,  aku hampir mati ....

Curhat Untuk Sahabat - Dewi Lestari

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini...

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : 'Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku...'
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Kami ber-11 dibawah terpal yang mempunyai doa yang sama pikirku "hentikan hujan ini, Tuhan". Pemasangan terpal mungkin salah karena kami terlalu panik, airnya menumpuk ditengah. Aku yang kedapatan meringkuk dipojok terkena guyuran air. Aku basah. Andre, yang baru sekali naik gunung sudah drop lebih dulu. Aku pindah posisi, kini aku disebelah Kak Achi. Aku dan beberapa yang lain masih bernyanyi, berniat menghilangkan situasi yang mencekam itu. Aku nyinyir sendiri, ketika melihat didepan mata sesosok pancaran putih. Aku sontak mengadu pada Kak Achi dan Ia menyuruhku ntuk melihat kearahnya saja. Hitngan detik aku melengos ke arah pancaran itu lagi, tapi sudah hilang. Byurr, tubuhku terkena guyuran dari terpal kedua kalinya. Kali ini dinginnya menusuk, sampai ketulangku. Akhirnya, plastik putih diedarkan lagi untuk melapisi tubuh kami. Ckup membantu tapi sedikit, mengingat tubuhku memang sudah basah. Suasana senyap, kami mulai menikmati dingin yang makin lama makin tidak bisa diterima oleh tubuh kami yang sudah mulai ringkih.  Hampir 2 jam lebih kami bertahan di situasi ini. Sampai akhirnya aku menggigil sejadinya, hujan badai kemudian melunak menjadi gerimis. Kak Achi memberi masukan agar kami ngecamp dijalur, di selter tempat tadi sore kami sempat beristirahat yang letaknya tidak jauh dari tempat kami berteduh.

Terpal digulung, kami berhamburan menuju selter tidak terkecuali aku. Aku diam, menggigil kedinginan dan kepanikanku memuncak ketika ada yang menyenter ke arah wajahku dan Kak Achi yang ada didepanku berteriak "Ya ampun de, bibir lo biru!". Aku kehabisan akal, bahkan kendali atas diriku sendiri. Aku ingin menangis tapi rasanya air mataku pun sudah beku. Perintah-perintah kecil dari sebagian teman untuk menggerakkan tubuhku supaya lebih hangat rasanya asing ditelingaku. 

Aku merasa seperti akan mati, tapi kalian tidak membiarkan itu terjadi. Bang Anton dengan sigap mengamit tanganku dan meniupkan udara supaya aku merasa sedikit lebih baik. Hasilnya nihil, aku makin menggigil. Kemudian dia merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu. Hah ?? Mension House ?? seumur hidup aku tidak pernah min um alkohol lebih tepatnya tidak menyukainya. Mulutku dipaksa menganga dan mengalirlah minuman pahit itu ditenggorokanku. Aku muntah. Dadaku terasa lebih hangat, sementa tenda didirikan. 

Tenda sudah jadi, akhirnya bergegas Imron melepas sepatuku dan aku didorong masuk kedalam tenda. Aku melepas baju basah yang melekat ditubuhku. Tidak lama Junita masuk juga dan atas perintah Kak achi dia juga melepas seluruh pakaiannya dan memelukku. Dan kamipun berpelukan, layaknya seorang lesbian ( makasih banyak ya, neng ) . Aku kacau balau, dalam hati sudah banyak kata yang aku ucapkan sebagai salam perpisahan untuk mama perempuan paling cantik yang selalu setia menungguku pulang dan mengingatkan aku supaya enggak telat makan ( mam, untuk kali ini aku merasa sangat lelah. Aku tau aku banyak salah. Kalau malam ini aku kalah, maafin aku ya! Maaf buat janji yang belum pernah tergenapi.  Terimakasih yang enggak pernah akan bisa aku sampaikan secara langsung, mama pasti tau klo aku enggak pernah berhenti mikirin mama. Selalu doain aku masuk surga ya, mam. I love You ). Tapi aku tau pasti mama doain aku disana, aku mendingan menggigilnya. Aku langsung ganti baju dan Junita langsung memasukkan aku kedalam sleeping bag dan diselimuti sleeping bag lagi dan sesekali aku rasakan dia menindihku supaya aku menjadi lebih hangat dan tenang. Tidak lama aku agak tertidur dan aku dibangunkan untuk minum sereal jahe, kemudian disusul cream sup dan disuapin lagi sama neng Junita baik hati ( makasih lagi ya neng :D ). Aku mulai bisa tertidur lagi, tidak lama keadaan sudah membaik lagi. Aku sudah mulai bangun dan tertawa lagi, mengomentari masakan kaum lelaki yang bentk dan rasanya campur aduk hahhaa ( Terimakasih Tuhan atas kesempatan-Mu lagi ). Kami semua tidur, walaupun kualitas tidurnya kurang baik tapi setidaknya badai itu telah kami lewati ...


Pagi menjelang, kami berkumpul sambil memasak dan ngobrol membahas kejadian-kejadian mistis tadi malam. Katanya waktu tengah malam sampai subuh ada jejak kaki yang berputar-putar mengelilingi tenda kami. Ini sangat menyeramkan. 


Setelah semua sudah siap, kami sarapan seadanya. Aku dan Junita disuapin spagetty oleh Kak Achi, ceritanya sepiring bertiga hahhaha ( sebenernya gue masih laper banget, tapi kayanya klo gue protes rasanya enggak etis hehe ). Selesai kami makan, dari kejahuan datang Trie dan Bang Yanto. Pikir kami mereka sudah sampai puncak dan turun. Nyatanya mereka juga ngecamp ditengah jalur dan kelaperan makanya turun hahahhaha. 






Kami sepakat untuk tidak membawa carrier, hanya membawa daypack itupun hanya Kak Achi yang berisi perbekalan sampai puncak. Carrier dan barang-barang lainnya ditinggal dan dikumpulkan di satu tenda, jadi yang dipacking hanya 2 tenda. Aku, Kak Achi, Junita, Irvan, Bang Anton, Andre, Imron, Firman dan Fery duluan berangkat sedangkan Bang Day, Bang Cilok, Trie, dan Bang Yanto menyusul karena mereka mau memasak dulu.





Jalur yang kami daki, makin lama makin menjadi tingkat kesulitannya. Dari harus merunduk, melompat, bahkan sampai harus memanjat tebing dari tumpukan-tumpukan tanah basah sedikit berlumpur. Kami memilih jalur air, yang konon katanya lebih cepat. Lumayan juga engap, berasa kaya berebutan udara. Air yang kami bawa hanya sebesar botol Aqua 1,5L untuk ber-9 dan akhirnya kurang. Untung ditengah perjalanan ada pendaki yang sudah mau turun dan berbaik hati memberikan minumannya ( sebenernya gue yang enggak tau malu sih, daripada haus hahhaa ). Akhirnya, Puncak juga! ketemu tenda Om Djal, Om Dolly, Mas dwi dan Mas Ucup. alhamdlilah banget yah :)



Kami istirahat sejenak di tenda sembari ngemil dan foto-foto. Lalu setelah itu kami turun ke Mandalawangi :








Penutup :

Badai terbayar dengan canda tawa kami meraih Puncak Panggrango dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya. Bergulingan riang di lembah kasih Mandalawangi. Kebersamaan itu masih tetap ada. Jangan putus komunikasi ya teman. I love you.

Terimakasih tiada tara saya ucapkan kepada :
  1. Tuhan Pencipta Langit dan Bumi yang begitu indah, dan atas berkat serta rahmat-Nya yang berlimpah kami bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.
  2. Untuk setiap orang tua dari kami, atas restunya kami boleh menikmati perjalanan ini dengan hati tenang dan pulang membawa senyuman.
  3. Untuk para sahabat yang tidak mengikuti perjalanan ini namun rela kami repotkan secara cuma-cuma. Tuhan beserta kalian teman, semoga lain waktu kita bergabung.
  4. Untuk setiap pihak yang telah membantu, namun tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Senin, 07 November 2011

maaf, telah membuatmu pilu.

Aku     : Mam, klo kuliah gue dulu enggak mandek pasti sekarang lagi sibuk skripsi dan udah bisa sambil serabutan freelance yah ? pasti seru banget. bebas! ahhhh, itu mimpi dan harus.

Mama : Sebenernya bisa klo kamu gak kesana-kemari dan niat nabung. anget-anget tai ayam doang sih kemauannya!

Aku    : Yaudah makanya bayarin gue kuliah aja, gue gak usah kerja. fokus, gue pasti tanggung jawab! 

Mama  : Sorry ya, Non. Maaf gue dulu berenti kerja, jadi gak bisa nguliahin lo sesuai cita-cita lo. semoga bisa terwujud ya :)

*Hening*

Aku gak kuat harus jawab. klo diterusin pasti aku nangis. aku tau mama juga dalam hati nangis, sama kaya aku. di detik yang sama. walaupun dengan raut wajah tersenyum, aku tau duka mendalam dimata itu. kamu tetap cantik.

Mama, makasih buat semua dukungan atas semua yang sudah aku lakukan walaupun enggak sedikit yang gagal. terimakasih karena telah memberikan aku perlindungan dan pembelaan yang banyak ditentang papa yang makin lama tak kuketahui dan tak kumengerti lagi jalan pikirannya. maaf buat cerita yang membuat hatimu sekejap pilu. i love you. anakmu.

Kamis, 03 November 2011

Mimpi itu kini kurengkuh :)

hallo blogger! kangen nulis lagi, setelah susah payah nginget pasword account ini akhirnya ketemu juga. Terlalu banyak yang mau saya ceritakan, terlalu banyak kebesaran Tuhan yang tergenapi dihidup saya. Izinkan saya bercerita :')

11 SEPTEMBER 2011 - 16 SEPTEMBER 2011

Seru ! Sebelas September menuju Mahameru. Keinginan mendaki gunung dari umur 14 tahun baru terealisasikan setelah saya berusia 21 tahun. Semua dimulai setelah saya merampungkan membaca buku inspiratifnya mas Donny Dirgantara - 5 CM pada 5 September 2011.  Laksana anak yang dibangunkan untuk melongok kembali mimpi dimasa lalu yang harus segera direalisasikan, ya semua enggak boleh tertunda lagi.

Dengan modal browsing sana kemari dan kecewa beberapa kali karena ada beberapa hambatan. Dan semua teratasi. Saya akhirnya menemukan sebuah postingan di kaskus, acara ajakan untuk mendaki ke Puncak Mahameru dan ternyata TSnya tinggal tidak jauh dari rumah saya. Saya girang bukan kepayang, ini firasat yang baik dan saya harus bersiap.

Semua terasa teristimewa karena dari 16 orang peserta yang bergabung tak ada satupun yang saya kenal. Dan yang menngembirakan, rumah saya bisa menjadi tempat berkumpulnya manusia hebat sebelum hari H keberangkatan. Biar kuperkenalkan mereka : Om Djal GM selaku pepimpin dari pendakian SERU dan owner Gampala, Tante Henny Return kekasih Om Djal sekaligus senior Mapala Untan di Pontianak, Bang Orok Gampala anggota dari Gampala dan sekaligus kemenakan Om Djal, Tesar Syahrizal selaku TS dan rekan yang baik karena membantu saya packing, Bachtiar Irvanda tetangga dan teman dari kecil walaupun tidak ikut pendakian tapi dia rela begadang nemenin para senior di teras rumah saya sampai subuh dan meminjamkan daypacknya. Kalian keluargaku.

Perjalanan baru dimulai teman :
Cek poin pertama di stasiun kota sembari menunggu ular besi Gaya Baru Malam yang akan menghantar kami ke kota Surabaya. kenalanku bertambah lagi, kali ini ada Bang Qcunk Palagas, Riki Romdona, Polo dan Bang Raymond Pinontoan. 

Ini penampakan di St. Kota yang berhasil diabadikan kamera handphone saya bersama sahabat-sahabat baru yang hebat!

Tidak lama setelah pukul 12.00 WIB si ular besi Gaya Baru Malam tiba untuk menghantar kami menuju Surabaya kota Pahlawan.

Di St. Pasar Senen, ada satu rekan kami lagi yaitu Bang Anton Kurniawan yang membuat kami ganjil berjumlah 11 orang. Berangkaattt !


Di dalam ular besi ekonomi yang panas, suasana kian menghangat. Berseliweran para pengais rupiah yang sudah lupa akan lelah, sesekali pengamen yang kebanyakan waria menggelitik perut kami dengan goyangannya yang erotis menggelikan mengingat kebanyakan dari kami adalah laki-laki. Kami berbaur menjadi kesatuan, bertukan pikiran, sesekali kelelahan hingga tertidur dan sedikit dengkurang sebagai pemanisnya. Ya, kami seperti telah mengenal lama. Dan aku jatuh cinta pada pecel Madiun sejak kali pertamanya masuk kelidahku, enaaakk!

Yeaah, akhirnya sampe di Surabaya. Wajah lelah penuh keceriaan terpancar dari setiap kami. Dan kami kembali dipertemukan lagi dengan rekan kami Bang Junjunan Harry Mukti dari Bandung yang sudah menunggu lebih dulu  karena jadwal ular besinya lebih dulu sampai.

Setelah berberes, mengecas handphone, ke kamar mandi, dan lain-lain, salah satu dari kami membeli tiket lanjut ke St. Malang yang jadwal keberangkatannya pukul 05.00. lanjut !


Sampai juga di Malang dan kali ini kenarsisan saya yang berhasil diabadikan. Ehh, tapi Tante Henny juga ikutan tuh ternyata hehehe. mungkin karena cuma kita berdua di Team yang disebut "perempuan" jadi kenarsisannya lebih tinggi dari yang lain :D

Di Malang berjumpa dengan rekan kami yang lain Mas Agus Amar dan Mas Surya dari Jogja, Mas Bayu dari Semarang dan Om Dolly dari Pati dan akhirnya kami genap berjumlah 16 orang. Lalu, tidak lama kemudian  siap menyarter angkot menuju Pasar Tumpang. Ada beberapa lagi yang baru dikenal tapi tidak masuk Team kami hanya gabung supaya lebih mempermurah biaya transport dan inilah indahnya Pecinta dan Penikmat Alam. Berbagi satu sama lain. indahnya.

Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Pasar Tumpang. berangkat !

Dengan angkot yang rada doyong karena kelebihan muatan, tawa kami memecah. terutama di angkotku yang isinya manusia-manusia ngacak hahha. Udara Malang pagi itu sangat sejuk kurasakan, sesejuk hatiku menantikan gebrakan baru dalam hidupku yang sudah didepan mata. Mahameru izinkan aku memelukmu ...

 Sampai di Tumpang, kami mempersiapkan lagi data untuk registrasi antara lain fotocopy KTP dan Surat Keterangan Sehat dari dokter. Setelah data-data yang diperlukan siap, kami berpencar untuk makan siang dan memilih warung makan yang sesuai dengan selera kami masing-masing. Saya memilih Rawon yang katanya pedas itu bersama beberapa rekan. Dan ketagihan hehehe. 
Makan siang berlalu, Jeep pun sudah tersedia untuk mengantar kami sedikit lebih dekat dengan Puncaknya Para Dewa. sebelum Jeep meluncur, biar afdol foto lagi :D
Pendakian kali ini kami dibarengi 1 Team lagi, kira-kira waktu itu kami ber 32 orang. Ternyata banyak juga penikmat alam, kirain cuma demo aja yang bisa mengerahkan banyak masa :) 


Akhirnya, segala urusan terselesaikan. kami siap berangkat lagi menuju Ranu Pane tempat start awal pendakian. Kami lagi dan lagi memecah tawa, sambil melihat pemandangan sekeliling tempat bermukimnya warga Desa Tengger yang sesekali juga diselingi oleh kebun apel yang seolah menggodaku untuk memetik buahnya. Sampai akhirnya Jeep yang kami tumpangi mendadak ngadat ditengah jalan ...
Anehnya, mogoknya pas banget dirumah yang punya Jeep. Akhirnya ganti Jeep juga demi kelancaran. Sambil nunggu pemindahan peralatan lenong (keril dan temen-temennya) dari Jeep yang lama ke Jeep yang baru, kami disuguhi berbagai macam kue lebaran dan kopi oleh Tuan rumah alias pemilik Jeep. 

Bukan ngacak kalo lagi santai enggak bergaya, alhasil jeprat-jepret sana sini lagi. Setelah kelelahan berpose kami nguprok (ngupi ngeroko , bagi yang merokok). 

Setelah pemindahan peralatan lenong rampung, kami siap-siap menaiki jeep baru yang ternyata ukurannya lebih kecil dan terpaksa Bang Qcunk harus naik di depan, posisi kami ada yang berdiri, ada yang duduk disisi-sisi Jeep pokoknya enggak beraturan. Sepertinya tidak terduga, dari tawa terbahak satu persatu muka kami memucat dikarenakan medan yang menyeramkan dan berdebu tapi bercampur keindahan kawah Bromo dan Mahameru dari kejauhan. Sesekali dedaunan menyapu wajah salah satu dari kami, tawa dan teriakan histerispun berselingan. tanjakan curam dan turunan curam berpadu dengan tikungan yang tak kami sangka-sangka yang dengan mudahnya membolak-balik posisi kami menjadi tidak karuan. Ini seru, saya suka hahahha.

Akhirnya! Hallo Ranu Pane, izinkan kami istirahat sejenak dan membenahi nafas kami sampai normal hahhaa




Pukul 15.00 akhirnya kami putuskan untuk lanjut mendaki sampai Ranu Kumbolo dan ngecamp disana semalam sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Banyak halangan dan rintangan yang kami hadapi dalam berbagai macam bentuk. Mulai dari penerangan, kondisi fisik dan cuaca yang dingin karena saat itu musim panas. Tapi akhirnya saya tiba juga di Ranu Kumbolo Pukul 20.45 disusul oleh yang lain kira-kira Pukul 23.00 Berikut kebersamaan kami di Ranu Kumbolo :

Masak-masak di tenda riki, merapat semua yang pada kelaperan hahhaa. Saya yang ngiris bawang dan cabenya lho *uppss :D







Rencananya mau foto sendiri malahan Bang orok pake nemplok segala, hadeh -..-"
Duet sama kaka senior dan adik senior, lucu mereka berdua klo udah digabung. Yang satu nyablak, yang satu lagi pendiem terus disuruh apa aja nurut. Nasib ya, Pol ? hehe.
Bersiap-siap menuju Kalimati, lets go! ehh tunggu foto dulu :)












Perjalanan dilanjut lagi menuju Kalimati kira-kira Pukul 09.00 pagi. Menuju Kalimati, banyak tempat indah yang kami lewati sehingga memanjakan mata ini. Pertama-tama kami menjumpai Tanjakan Cinta, yang konon katanya kalau setiap orang yang bisa melewati tanjakan tersebut tanpa beristirahat dan menengok kebelakang akan menemukan cintanya. Namanya juga mitos, boleh percaya boleh tidak. Kalau saya tidak memikirkan cinta saat menanjakinya, melainkan "kapan ujungnya, kapan sampai atasnya ?" hahhaha.


Sampai diujung Tanjakan Cinta, kami semua kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk duduk sejenak membetulkan nafas kami hingga normal. Setelah sudah hilang letih, kami disambut dengan turunan yang agak curam. Yeaahh, menuju Savana Oro-oro Ombo. Kami disambut oleh indahnya rerumputan yang berwarna orange, padang rumput ini layaknya sebuah mangkuk dikelilingi oleh bukit yang agak gundul. Apalagi waktu itu baru selesai kebakaran.


Setelah dimanjakan dengan rerumputan di Savana Oro-oro Ombo, kamii memasuki sebuah kelompok hutan yang bernama Cemoro Kandang tepatnya terletak disebelah selatan. Di Cemoro Kandang jarang ditumbuhi oleh pohon cemara dan banyak tumbuhan paku-pakuan didalamnya. Didaerah ini topografi relatif datar.




Kira-kira 1-2 jam, kami keluar dari hutan Cemoro Kandang. Keluar dari hutan, kami disambut oleh savana jambangan yang diselingi tumbuhan cemara dan mentingidan bunga edelweis. Topografi relatif lebih rendah dari jalur pendakian ini, beberapa tempat teduh menampakkan diri sebagai tempat beristirahat. Dari tempat ini terlihat gagahnya Puncak Mahameru dengan kebulan asapnya, membuatnya nampak semakin gagah. Panorama alam yang menurut saya sangat menakjubkan.



Beberapa jepretan dan seteguk air membahasi setiap tenggorokan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Kalimati yang sedikit lagi akan segera tiba.

Kira-kira 1 jam'an kami sampai di Kalimati dan mulai membangun tenda kami kembali. Sebagian mengambil air untuk persediaan untuk membuat air hangat dan memasak serta bekal untuk summit. Udara sore itu mulai agak dingin karena ada sedikit rintik hujan juga, kebanyakan dari kami memilih untuk buru-buru masak dan kemudian masuk tenda beristirahat untuk persiapan stamina pada saat summit attack. Walaupun tidak sedikit juga yang masih terjaga dengan bermain kartu dan ngopi serta kerokan. selamat malam.

MENUJU MAHAMERU 3676 MDPL, 14 September 2011

Jam 11 malam kami satu persatu mulai terjaga dari tidur dan mulai memasak, mengisi perut kami agar lebih kuat fisiknya. Setelah semua rampung, kira-kira jam 12 lebihnya 1 menit  ternyata Tante Henny berulang tahun. Malam itu menjadi haru, satu persatu dari kami mengucapkan selamat ulang tahun dan yang lain sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun. aku kebagian membawa lilin kecil untuk ditiup Tante Henny sebagai simbol saja. Sederhana, tapi aku yakin memory ini akan selalu terkenang. Bukan hanya dibenak yang merayakan hari jadinya saja, tapi setiap kami juga :')



Akhirnya, saatnya berangkat setelah memanjatkan doa kepada Sang Khalik. Kami meninggalkan Kalimati, ada beberapa rekan yang tidak ikut muncak dan lebih memilih menjaga tenda serta barang-barang kami. Kamipun berlalu, memasuki hutan dan kami mesti harus berebut oksigen dengan pohon-pohon sehingga mudah terengah-engah kelelahan dan saya kebanyakan menelan pasir sehingga keronggkongan tenggorokan saya sedikit sakit dan ingin minum  terus. Arcopodo sudah dilewati, kemudian tiba dibatas Vegetasi dan Summit dimulai teman!




Rasanya kaki ini sudah mendaki tinggi, tapi tidak kunjung juga sampai. Lima kali kaki ini melangkah merosot lagi. Ada yang tetap kuat dan ada yang tumbang. Yang tumbang salah satunya aku dan aku memutuskan untuk berhenti, tapi aku seolah ditegor, aku dipertemukan oleh bapak-bapak entah darimana. Beliau menyemangatiku, aku bangkit. Ditengah perjalananku, aku ternyata tidak tumbang sendirian. Bang Raymond ternyata juga sudah menyerah nampaknya, namun lagi-lagi Bapak tua itu membujuk untuk melanjutkan dan kami sepakat untuk lanjut. Dengan sisa-sisa mimpi, janjiku pada mama dan demi secercah senyum diwajahnya yang menua namun tetap cantik, akhirnya. Terimakasih Tuhan atas nikmat-Mu. Puncak Mahameru kini dipelukanku.





Penutup :

Akhirnya, setelah jejak kami tinggalkan ditanah tertinggi di pulau Jawa, kami turun dengan senyum sumringah. Kami berhamburan menuju kota masing-masing, namun hati kami tetap satu, perjalanan ini menjadi saksinya. Kami pulang tanpa kekurangan suatu apapun dan membawa cerita baru untuk hidup kami. selamat teman, semoga dihari lain kita berjodoh ekspedisi bersama lagi. Jangan sampai komunikasi kita terputus. Ekspedisi ini selesai ...

Terimakasih tiada tara saya ucapkan kepada :
  1. Tuhan Pencipta Langit dan Bumi yang begitu indah, dan atas berkat serta rahmat-Nya yang berlimpah kami bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.
  2. Untuk setiap orang tua dari kami, atas restunya kami boleh menikmati perjalanan ini dengan hati tenang dan pulang membawa senyuman.
  3. Untuk Kaskus yang telah menyatukan banyak kepala yang memiliki satu tujuan untuk memeluk Puncak Mahameru
  4. Untuk para sahabat yang tidak mengikuti perjalanan ini namun rela kami repotkan secara cuma-cuma. Tuhan beserta kalian teman, semoga lain waktu kita bergabung.
  5. Untuk setiap pihak yang telah membantu, namun tidak bisa disebutkan satu-persatu.