Ini penampakan di St. Kota yang berhasil diabadikan kamera handphone saya bersama sahabat-sahabat baru yang hebat!
Tidak lama setelah pukul 12.00 WIB si ular besi Gaya Baru Malam tiba untuk menghantar kami menuju Surabaya kota Pahlawan.
Di St. Pasar Senen, ada satu rekan kami lagi yaitu Bang Anton Kurniawan yang membuat kami ganjil berjumlah 11 orang. Berangkaattt !
Di dalam ular besi ekonomi yang panas, suasana kian menghangat. Berseliweran para pengais rupiah yang sudah lupa akan lelah, sesekali pengamen yang kebanyakan waria menggelitik perut kami dengan goyangannya yang erotis menggelikan mengingat kebanyakan dari kami adalah laki-laki. Kami berbaur menjadi kesatuan, bertukan pikiran, sesekali kelelahan hingga tertidur dan sedikit dengkurang sebagai pemanisnya. Ya, kami seperti telah mengenal lama. Dan aku jatuh cinta pada pecel Madiun sejak kali pertamanya masuk kelidahku, enaaakk!
Yeaah, akhirnya sampe di Surabaya. Wajah lelah penuh keceriaan terpancar dari setiap kami. Dan kami kembali dipertemukan lagi dengan rekan kami Bang Junjunan Harry Mukti dari Bandung yang sudah menunggu lebih dulu karena jadwal ular besinya lebih dulu sampai.
Setelah berberes, mengecas handphone, ke kamar mandi, dan lain-lain, salah satu dari kami membeli tiket lanjut ke St. Malang yang jadwal keberangkatannya pukul 05.00. lanjut !
Sampai juga di Malang dan kali ini kenarsisan saya yang berhasil diabadikan. Ehh, tapi Tante Henny juga ikutan tuh ternyata hehehe. mungkin karena cuma kita berdua di Team yang disebut "perempuan" jadi kenarsisannya lebih tinggi dari yang lain :D
Di Malang berjumpa dengan rekan kami yang lain Mas Agus Amar dan Mas Surya dari Jogja, Mas Bayu dari Semarang dan Om Dolly dari Pati dan akhirnya kami genap berjumlah 16 orang. Lalu, tidak lama kemudian siap menyarter angkot menuju Pasar Tumpang. Ada beberapa lagi yang baru dikenal tapi tidak masuk Team kami hanya gabung supaya lebih mempermurah biaya transport dan inilah indahnya Pecinta dan Penikmat Alam. Berbagi satu sama lain. indahnya.
Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Pasar Tumpang. berangkat !
Dengan angkot yang rada doyong karena kelebihan muatan, tawa kami memecah. terutama di angkotku yang isinya manusia-manusia ngacak hahha. Udara Malang pagi itu sangat sejuk kurasakan, sesejuk hatiku menantikan gebrakan baru dalam hidupku yang sudah didepan mata. Mahameru izinkan aku memelukmu ...
Sampai di Tumpang, kami mempersiapkan lagi data untuk registrasi antara lain fotocopy KTP dan Surat Keterangan Sehat dari dokter. Setelah data-data yang diperlukan siap, kami berpencar untuk makan siang dan memilih warung makan yang sesuai dengan selera kami masing-masing. Saya memilih Rawon yang katanya pedas itu bersama beberapa rekan. Dan ketagihan hehehe.
Makan siang berlalu, Jeep pun sudah tersedia untuk mengantar kami sedikit lebih dekat dengan Puncaknya Para Dewa. sebelum Jeep meluncur, biar afdol foto lagi :D
Pendakian kali ini kami dibarengi 1 Team lagi, kira-kira waktu itu kami ber 32 orang. Ternyata banyak juga penikmat alam, kirain cuma demo aja yang bisa mengerahkan banyak masa :)
Akhirnya, segala urusan terselesaikan. kami siap berangkat lagi menuju Ranu Pane tempat start awal pendakian. Kami lagi dan lagi memecah tawa, sambil melihat pemandangan sekeliling tempat bermukimnya warga Desa Tengger yang sesekali juga diselingi oleh kebun apel yang seolah menggodaku untuk memetik buahnya. Sampai akhirnya Jeep yang kami tumpangi mendadak ngadat ditengah jalan ...Anehnya, mogoknya pas banget dirumah yang punya Jeep. Akhirnya ganti Jeep juga demi kelancaran. Sambil nunggu pemindahan peralatan lenong (keril dan temen-temennya) dari Jeep yang lama ke Jeep yang baru, kami disuguhi berbagai macam kue lebaran dan kopi oleh Tuan rumah alias pemilik Jeep.
Bukan ngacak kalo lagi santai enggak bergaya, alhasil jeprat-jepret sana sini lagi. Setelah kelelahan berpose kami nguprok (ngupi ngeroko , bagi yang merokok).

Setelah pemindahan peralatan lenong rampung, kami siap-siap menaiki jeep baru yang ternyata ukurannya lebih kecil dan terpaksa Bang Qcunk harus naik di depan, posisi kami ada yang berdiri, ada yang duduk disisi-sisi Jeep pokoknya enggak beraturan. Sepertinya tidak terduga, dari tawa terbahak satu persatu muka kami memucat dikarenakan medan yang menyeramkan dan berdebu tapi bercampur keindahan kawah Bromo dan Mahameru dari kejauhan. Sesekali dedaunan menyapu wajah salah satu dari kami, tawa dan teriakan histerispun berselingan. tanjakan curam dan turunan curam berpadu dengan tikungan yang tak kami sangka-sangka yang dengan mudahnya membolak-balik posisi kami menjadi tidak karuan. Ini seru, saya suka hahahha.
Akhirnya! Hallo Ranu Pane, izinkan kami istirahat sejenak dan membenahi nafas kami sampai normal hahhaa
Pukul 15.00 akhirnya kami putuskan untuk lanjut mendaki sampai Ranu Kumbolo dan ngecamp disana semalam sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Banyak halangan dan rintangan yang kami hadapi dalam berbagai macam bentuk. Mulai dari penerangan, kondisi fisik dan cuaca yang dingin karena saat itu musim panas. Tapi akhirnya saya tiba juga di Ranu Kumbolo Pukul 20.45 disusul oleh yang lain kira-kira Pukul 23.00 Berikut kebersamaan kami di Ranu Kumbolo :
Masak-masak di tenda riki, merapat semua yang pada kelaperan hahhaa. Saya yang ngiris bawang dan cabenya lho *uppss :D
Rencananya mau foto sendiri malahan Bang orok pake nemplok segala, hadeh -..-"
Duet sama kaka senior dan adik senior, lucu mereka berdua klo udah digabung. Yang satu nyablak, yang satu lagi pendiem terus disuruh apa aja nurut. Nasib ya, Pol ? hehe.
Bersiap-siap menuju Kalimati, lets go! ehh tunggu foto dulu :)
Perjalanan dilanjut lagi menuju Kalimati kira-kira Pukul 09.00 pagi. Menuju Kalimati, banyak tempat indah yang kami lewati sehingga memanjakan mata ini. Pertama-tama kami menjumpai Tanjakan Cinta, yang konon katanya kalau setiap orang yang bisa melewati tanjakan tersebut tanpa beristirahat dan menengok kebelakang akan menemukan cintanya. Namanya juga mitos, boleh percaya boleh tidak. Kalau saya tidak memikirkan cinta saat menanjakinya, melainkan "kapan ujungnya, kapan sampai atasnya ?" hahhaha.
Sampai diujung Tanjakan Cinta, kami semua kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk duduk sejenak membetulkan nafas kami hingga normal. Setelah sudah hilang letih, kami disambut dengan turunan yang agak curam. Yeaahh, menuju Savana Oro-oro Ombo. Kami disambut oleh indahnya rerumputan yang berwarna orange, padang rumput ini layaknya sebuah mangkuk dikelilingi oleh bukit yang agak gundul. Apalagi waktu itu baru selesai kebakaran.
Setelah dimanjakan dengan rerumputan di Savana Oro-oro Ombo, kamii memasuki sebuah kelompok hutan yang bernama Cemoro Kandang tepatnya terletak disebelah selatan. Di Cemoro Kandang jarang ditumbuhi oleh pohon cemara dan banyak tumbuhan paku-pakuan didalamnya. Didaerah ini topografi relatif datar.
Kira-kira 1-2 jam, kami keluar dari hutan Cemoro Kandang. Keluar dari hutan, kami disambut oleh savana jambangan yang diselingi tumbuhan cemara dan mentingidan bunga edelweis. Topografi relatif lebih rendah dari jalur pendakian ini, beberapa tempat teduh menampakkan diri sebagai tempat beristirahat. Dari tempat ini terlihat gagahnya Puncak Mahameru dengan kebulan asapnya, membuatnya nampak semakin gagah. Panorama alam yang menurut saya sangat menakjubkan.
Beberapa jepretan dan seteguk air membahasi setiap tenggorokan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Kalimati yang sedikit lagi akan segera tiba.
Kira-kira 1 jam'an kami sampai di Kalimati dan mulai membangun tenda kami kembali. Sebagian mengambil air untuk persediaan untuk membuat air hangat dan memasak serta bekal untuk summit. Udara sore itu mulai agak dingin karena ada sedikit rintik hujan juga, kebanyakan dari kami memilih untuk buru-buru masak dan kemudian masuk tenda beristirahat untuk persiapan stamina pada saat summit attack. Walaupun tidak sedikit juga yang masih terjaga dengan bermain kartu dan ngopi serta kerokan. selamat malam.
MENUJU MAHAMERU 3676 MDPL, 14 September 2011
Jam 11 malam kami satu persatu mulai terjaga dari tidur dan mulai memasak, mengisi perut kami agar lebih kuat fisiknya. Setelah semua rampung, kira-kira jam 12 lebihnya 1 menit ternyata Tante Henny berulang tahun. Malam itu menjadi haru, satu persatu dari kami mengucapkan selamat ulang tahun dan yang lain sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun. aku kebagian membawa lilin kecil untuk ditiup Tante Henny sebagai simbol saja. Sederhana, tapi aku yakin memory ini akan selalu terkenang. Bukan hanya dibenak yang merayakan hari jadinya saja, tapi setiap kami juga :')

Akhirnya, saatnya berangkat setelah memanjatkan doa kepada Sang Khalik. Kami meninggalkan Kalimati, ada beberapa rekan yang tidak ikut muncak dan lebih memilih menjaga tenda serta barang-barang kami. Kamipun berlalu, memasuki hutan dan kami mesti harus berebut oksigen dengan pohon-pohon sehingga mudah terengah-engah kelelahan dan saya kebanyakan menelan pasir sehingga keronggkongan tenggorokan saya sedikit sakit dan ingin minum terus. Arcopodo sudah dilewati, kemudian tiba dibatas Vegetasi dan Summit dimulai teman!



Rasanya kaki ini sudah mendaki tinggi, tapi tidak kunjung juga sampai. Lima kali kaki ini melangkah merosot lagi. Ada yang tetap kuat dan ada yang tumbang. Yang tumbang salah satunya aku dan aku memutuskan untuk berhenti, tapi aku seolah ditegor, aku dipertemukan oleh bapak-bapak entah darimana. Beliau menyemangatiku, aku bangkit. Ditengah perjalananku, aku ternyata tidak tumbang sendirian. Bang Raymond ternyata juga sudah menyerah nampaknya, namun lagi-lagi Bapak tua itu membujuk untuk melanjutkan dan kami sepakat untuk lanjut. Dengan sisa-sisa mimpi, janjiku pada mama dan demi secercah senyum diwajahnya yang menua namun tetap cantik, akhirnya. Terimakasih Tuhan atas nikmat-Mu. Puncak Mahameru kini dipelukanku.
Penutup :
Akhirnya, setelah jejak kami tinggalkan ditanah tertinggi di pulau Jawa, kami turun dengan senyum sumringah. Kami berhamburan menuju kota masing-masing, namun hati kami tetap satu, perjalanan ini menjadi saksinya. Kami pulang tanpa kekurangan suatu apapun dan membawa cerita baru untuk hidup kami. selamat teman, semoga dihari lain kita berjodoh ekspedisi bersama lagi. Jangan sampai komunikasi kita terputus. Ekspedisi ini selesai ...
Terimakasih tiada tara saya ucapkan kepada :
- Tuhan Pencipta Langit dan Bumi yang begitu indah, dan atas berkat serta rahmat-Nya yang berlimpah kami bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.
- Untuk setiap orang tua dari kami, atas restunya kami boleh menikmati perjalanan ini dengan hati tenang dan pulang membawa senyuman.
- Untuk Kaskus yang telah menyatukan banyak kepala yang memiliki satu tujuan untuk memeluk Puncak Mahameru
- Untuk para sahabat yang tidak mengikuti perjalanan ini namun rela kami repotkan secara cuma-cuma. Tuhan beserta kalian teman, semoga lain waktu kita bergabung.
- Untuk setiap pihak yang telah membantu, namun tidak bisa disebutkan satu-persatu.