Pendakian ketigaku : Aku dan beberapa team Pendakian SERU kali ini berkumpul, setelah sukses meninggalkan jejak ditanah tertinggi di Pulau Jawa. Pendakian kali ini dinamakan "Pendakian Tiang". Mengapa harus Pendakian Tiang ? karena, diadakan pada tanggal 11-11-'11. Tadinya aku kira pendakian ini hanya sekedar reuni untuk team SERU, tapi tak disangka Om Djal mengabarkan bahwa ada sekitar 30 orang lebih yang akan berpartisipasi. Aaahh, senangnya bukan kepayang akan bertambah teman baru lagi.
Pendakian ini dibagi menjadi 2 jalur. Jalur 1 : melalui Putri dan Jalur 2 : melalui Cibodas. Tiba di hari H, tidak sedikit peserta yang mengundurkan diri. Akhirnya, fix dari jalur Putri : Om Djal, Om Dolly, Mas Dwi dan Mas Ucup. Jalur Cibodas fix 24 orang termasuk aku.
Perjalanan dimulai 11-11-11 :
Aku, irvan dan Bang anton seperti biasa janjian ketean di Kp. Rambutan. Kira-kira pukul 22.00 kami baru menaiki bus dan sampai di warung Teh Lilis sekitar pukul 00.30 dini hari. Kami bertiga langsung bergegas naik mencari kasur dan selimut serta memesan mie kuah + telor dan teh manis hangat sebagai penutupnya. Sambil makan, irvan bergantian denganku untuk menelpon Bang Day untuk mengetahui posisi rombongan sudah dimana, ternyata masih belum mendapatkan kendaraan menuju Cibodas dan masih stuck di Pasar Induk. Oke, kami bertiga sepakat berhubungan intim dengan kasur dan selimut yang telah digelar masing-masing. kami terlelap.
Kira-kira pukul 05.30 aku kebangun, liat handphone banyak banget misscalled sama ada sms dari Bang Day. Bang Anton sama Irvan masih pada pules, langsung aja aku gebrak biar pada bangun. Ternyata handphone irvan juga di misscalled, langsung Irvan lari ke jendela ngelongok, aku juga ikutan tapi malah nubruk jendela terus kacamata pecah. sempet panik, untung bisa diakalin pake lem. akhirnya bisa liat normal lagi hahhaa.
Akhirnya team udah pada kumpul semua didepan warung Teh Lilis, ngecek simaksi sambil siap-siap bentar. setelah ready semua, kira-kira pukul 07.30 kami berangkat!
Akhirnya team udah pada kumpul semua didepan warung Teh Lilis, ngecek simaksi sambil siap-siap bentar. setelah ready semua, kira-kira pukul 07.30 kami berangkat!
Sebelum perjalanan dilanjut, kami menyerahkan simaksi terlebih dahulu di kantor TNGP. Supaya kami tidak tercatat sebagai pendaki gelap. Sambil sebagian lagi mengurusnya, sebagian lagi foto-foto dong :D Setelah segala sesuatunya rampung, kami bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan dan mulai mendaki. Tidak lupa doa dan sedikit yel-yel ngaco untuk menyemangati diri kami masing-masing. Tetep aja team ngacak enggak ada yang bener hahhaa.
Kami berjalan agak seperti berbaris, pos demi pos kami lewati dan sesekali kami beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga kami. Dan sesekali kami memanfaatkan spot ntuk bergaya sejenak, mengumplkan dokumentasi ntuk diupload. Kami melewati Telaga Biru, Pancayangan, dan beberapa selter sampai akhirnya memutuskan menunggu Team 2 di Air Panas. Kami berendam sebentar, melurskan oto-otot kaki yang tegang.
Foto yang berhasil diabadikan dari Jembatan, Pancayangan, Selter dan Air Panas :
Ternyata dari Team 2 yang menyusul hanya Om Dolly yang kemudian disusul oleh Om Djal. Setelah sebentar bercengkrama temu kangen, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalur menuju Kandang Badak sudah mulai agak menanjak dan cuaca agaknya mluai mendung. Beberapa dari Team Cibodas ada yang memilih untuk ngecamp di Kandang Batu yang letaknya tidak jauh dari Air Panas. Kami mulai agak sering untuk beristirahat. Kira-kira Pukul 14.30 kami sampai di Kandang Badak dan sudah mulai gerimis. Ada juga beberapa lagi dari Team Cibodas yang memutuskan ngecamp di Kandang Badak. Kami mulai memasak dan mengisi perut karena Pukul 15.30 akan dilanjutkan perjalanan menuju Mandalawangi, sesuai rencana awal kami akan ngecamp disana.
Setelah kami selesai beres-beres peralatan memasak, packing kembali dan siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa kami membentuk bulatan kecil berdoa kepada Tuhan Pemilik Semesta dan diakhiri dengan yel-yel penuh keceriaan. Kami meninggalkan Kandang Badak.
Jalur yang ditempuh sudah mulai mendaki dan agak terjal, sesekali diselingi pohon tumbang dan untuk melewatinya tbuh ini harus merunduk sedemikian rupa hingga carrier dipundak jga bisa melewati atau melompati batang pohon tumbang tersebut. Sat jam perjalanan kami istirahat di jalur sambil ngobrol-ngobrol dan makan agar-agar buatan kak Achi dan Junita. Tidak lama kami berjalan lagi dan menemukan selter dengan bidang tanah yang cukup luas dan kami memutuskan untuk beristirahat kembali. Tapi bar sebentar, gerimis kemudian datang dan sat u persatu mulai berjalan. Para senior, Team Putri berjalan setengah berlari dan 2 orang Team Cibodas Trie dan Bang Yanto juga ikut menerobos gerimis. Sementara aku dan 10 orang lainnya memutuskan berteduh dulu dibawah pohon tumbang menggunakan terpal karena gerimis berbah menjadi hujan yang mencekam.
Badai mencekam, tak akan aku lupakan seumur hidupku. Aku berada dititik terendah, aku hampir mati ....
Curhat Untuk Sahabat - Dewi Lestari
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini...
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : 'Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku...'
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan Kami ber-11 dibawah terpal yang mempunyai doa yang sama pikirku "hentikan hujan ini, Tuhan". Pemasangan terpal mungkin salah karena kami terlalu panik, airnya menumpuk ditengah. Aku yang kedapatan meringkuk dipojok terkena guyuran air. Aku basah. Andre, yang baru sekali naik gunung sudah drop lebih dulu. Aku pindah posisi, kini aku disebelah Kak Achi. Aku dan beberapa yang lain masih bernyanyi, berniat menghilangkan situasi yang mencekam itu. Aku nyinyir sendiri, ketika melihat didepan mata sesosok pancaran putih. Aku sontak mengadu pada Kak Achi dan Ia menyuruhku ntuk melihat kearahnya saja. Hitngan detik aku melengos ke arah pancaran itu lagi, tapi sudah hilang. Byurr, tubuhku terkena guyuran dari terpal kedua kalinya. Kali ini dinginnya menusuk, sampai ketulangku. Akhirnya, plastik putih diedarkan lagi untuk melapisi tubuh kami. Ckup membantu tapi sedikit, mengingat tubuhku memang sudah basah. Suasana senyap, kami mulai menikmati dingin yang makin lama makin tidak bisa diterima oleh tubuh kami yang sudah mulai ringkih. Hampir 2 jam lebih kami bertahan di situasi ini. Sampai akhirnya aku menggigil sejadinya, hujan badai kemudian melunak menjadi gerimis. Kak Achi memberi masukan agar kami ngecamp dijalur, di selter tempat tadi sore kami sempat beristirahat yang letaknya tidak jauh dari tempat kami berteduh.
Terpal digulung, kami berhamburan menuju selter tidak terkecuali aku. Aku diam, menggigil kedinginan dan kepanikanku memuncak ketika ada yang menyenter ke arah wajahku dan Kak Achi yang ada didepanku berteriak "Ya ampun de, bibir lo biru!". Aku kehabisan akal, bahkan kendali atas diriku sendiri. Aku ingin menangis tapi rasanya air mataku pun sudah beku. Perintah-perintah kecil dari sebagian teman untuk menggerakkan tubuhku supaya lebih hangat rasanya asing ditelingaku.
Aku merasa seperti akan mati, tapi kalian tidak membiarkan itu terjadi. Bang Anton dengan sigap mengamit tanganku dan meniupkan udara supaya aku merasa sedikit lebih baik. Hasilnya nihil, aku makin menggigil. Kemudian dia merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu. Hah ?? Mension House ?? seumur hidup aku tidak pernah min um alkohol lebih tepatnya tidak menyukainya. Mulutku dipaksa menganga dan mengalirlah minuman pahit itu ditenggorokanku. Aku muntah. Dadaku terasa lebih hangat, sementa tenda didirikan.
Tenda sudah jadi, akhirnya bergegas Imron melepas sepatuku dan aku didorong masuk kedalam tenda. Aku melepas baju basah yang melekat ditubuhku. Tidak lama Junita masuk juga dan atas perintah Kak achi dia juga melepas seluruh pakaiannya dan memelukku. Dan kamipun berpelukan, layaknya seorang lesbian ( makasih banyak ya, neng ) . Aku kacau balau, dalam hati sudah banyak kata yang aku ucapkan sebagai salam perpisahan untuk mama perempuan paling cantik yang selalu setia menungguku pulang dan mengingatkan aku supaya enggak telat makan ( mam, untuk kali ini aku merasa sangat lelah. Aku tau aku banyak salah. Kalau malam ini aku kalah, maafin aku ya! Maaf buat janji yang belum pernah tergenapi. Terimakasih yang enggak pernah akan bisa aku sampaikan secara langsung, mama pasti tau klo aku enggak pernah berhenti mikirin mama. Selalu doain aku masuk surga ya, mam. I love You ). Tapi aku tau pasti mama doain aku disana, aku mendingan menggigilnya. Aku langsung ganti baju dan Junita langsung memasukkan aku kedalam sleeping bag dan diselimuti sleeping bag lagi dan sesekali aku rasakan dia menindihku supaya aku menjadi lebih hangat dan tenang. Tidak lama aku agak tertidur dan aku dibangunkan untuk minum sereal jahe, kemudian disusul cream sup dan disuapin lagi sama neng Junita baik hati ( makasih lagi ya neng :D ). Aku mulai bisa tertidur lagi, tidak lama keadaan sudah membaik lagi. Aku sudah mulai bangun dan tertawa lagi, mengomentari masakan kaum lelaki yang bentk dan rasanya campur aduk hahhaa ( Terimakasih Tuhan atas kesempatan-Mu lagi ). Kami semua tidur, walaupun kualitas tidurnya kurang baik tapi setidaknya badai itu telah kami lewati ...
Pagi menjelang, kami berkumpul sambil memasak dan ngobrol membahas kejadian-kejadian mistis tadi malam. Katanya waktu tengah malam sampai subuh ada jejak kaki yang berputar-putar mengelilingi tenda kami. Ini sangat menyeramkan.
Setelah semua sudah siap, kami sarapan seadanya. Aku dan Junita disuapin spagetty oleh Kak Achi, ceritanya sepiring bertiga hahhaha ( sebenernya gue masih laper banget, tapi kayanya klo gue protes rasanya enggak etis hehe ). Selesai kami makan, dari kejahuan datang Trie dan Bang Yanto. Pikir kami mereka sudah sampai puncak dan turun. Nyatanya mereka juga ngecamp ditengah jalur dan kelaperan makanya turun hahahhaha.
Kami sepakat untuk tidak membawa carrier, hanya membawa daypack itupun hanya Kak Achi yang berisi perbekalan sampai puncak. Carrier dan barang-barang lainnya ditinggal dan dikumpulkan di satu tenda, jadi yang dipacking hanya 2 tenda. Aku, Kak Achi, Junita, Irvan, Bang Anton, Andre, Imron, Firman dan Fery duluan berangkat sedangkan Bang Day, Bang Cilok, Trie, dan Bang Yanto menyusul karena mereka mau memasak dulu.
Jalur yang kami daki, makin lama makin menjadi tingkat kesulitannya. Dari harus merunduk, melompat, bahkan sampai harus memanjat tebing dari tumpukan-tumpukan tanah basah sedikit berlumpur. Kami memilih jalur air, yang konon katanya lebih cepat. Lumayan juga engap, berasa kaya berebutan udara. Air yang kami bawa hanya sebesar botol Aqua 1,5L untuk ber-9 dan akhirnya kurang. Untung ditengah perjalanan ada pendaki yang sudah mau turun dan berbaik hati memberikan minumannya ( sebenernya gue yang enggak tau malu sih, daripada haus hahhaa ). Akhirnya, Puncak juga! ketemu tenda Om Djal, Om Dolly, Mas dwi dan Mas Ucup. alhamdlilah banget yah :)
Kami istirahat sejenak di tenda sembari ngemil dan foto-foto. Lalu setelah itu kami turun ke Mandalawangi :
Penutup :
Badai terbayar dengan canda tawa kami meraih Puncak Panggrango dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya. Bergulingan riang di lembah kasih Mandalawangi. Kebersamaan itu masih tetap ada. Jangan putus komunikasi ya teman. I love you.
Terimakasih tiada tara saya ucapkan kepada :
Pagi menjelang, kami berkumpul sambil memasak dan ngobrol membahas kejadian-kejadian mistis tadi malam. Katanya waktu tengah malam sampai subuh ada jejak kaki yang berputar-putar mengelilingi tenda kami. Ini sangat menyeramkan.
Setelah semua sudah siap, kami sarapan seadanya. Aku dan Junita disuapin spagetty oleh Kak Achi, ceritanya sepiring bertiga hahhaha ( sebenernya gue masih laper banget, tapi kayanya klo gue protes rasanya enggak etis hehe ). Selesai kami makan, dari kejahuan datang Trie dan Bang Yanto. Pikir kami mereka sudah sampai puncak dan turun. Nyatanya mereka juga ngecamp ditengah jalur dan kelaperan makanya turun hahahhaha.
Kami sepakat untuk tidak membawa carrier, hanya membawa daypack itupun hanya Kak Achi yang berisi perbekalan sampai puncak. Carrier dan barang-barang lainnya ditinggal dan dikumpulkan di satu tenda, jadi yang dipacking hanya 2 tenda. Aku, Kak Achi, Junita, Irvan, Bang Anton, Andre, Imron, Firman dan Fery duluan berangkat sedangkan Bang Day, Bang Cilok, Trie, dan Bang Yanto menyusul karena mereka mau memasak dulu.
Jalur yang kami daki, makin lama makin menjadi tingkat kesulitannya. Dari harus merunduk, melompat, bahkan sampai harus memanjat tebing dari tumpukan-tumpukan tanah basah sedikit berlumpur. Kami memilih jalur air, yang konon katanya lebih cepat. Lumayan juga engap, berasa kaya berebutan udara. Air yang kami bawa hanya sebesar botol Aqua 1,5L untuk ber-9 dan akhirnya kurang. Untung ditengah perjalanan ada pendaki yang sudah mau turun dan berbaik hati memberikan minumannya ( sebenernya gue yang enggak tau malu sih, daripada haus hahhaa ). Akhirnya, Puncak juga! ketemu tenda Om Djal, Om Dolly, Mas dwi dan Mas Ucup. alhamdlilah banget yah :)
Kami istirahat sejenak di tenda sembari ngemil dan foto-foto. Lalu setelah itu kami turun ke Mandalawangi :
Penutup :
Badai terbayar dengan canda tawa kami meraih Puncak Panggrango dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya. Bergulingan riang di lembah kasih Mandalawangi. Kebersamaan itu masih tetap ada. Jangan putus komunikasi ya teman. I love you.
Terimakasih tiada tara saya ucapkan kepada :
- Tuhan Pencipta Langit dan Bumi yang begitu indah, dan atas berkat serta rahmat-Nya yang berlimpah kami bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.
- Untuk setiap orang tua dari kami, atas restunya kami boleh menikmati perjalanan ini dengan hati tenang dan pulang membawa senyuman.
- Untuk para sahabat yang tidak mengikuti perjalanan ini namun rela kami repotkan secara cuma-cuma. Tuhan beserta kalian teman, semoga lain waktu kita bergabung.
- Untuk setiap pihak yang telah membantu, namun tidak bisa disebutkan satu-persatu.




















ah so sweet. sedih baca nya : )
BalasHapus